Sore itu, kayak rutinitas wajib, habis Salat Ashar, mode santai langsung ON.
Gue lagi enak-enaknya dengerin Guns N' Roses—playlist kaset favorit yang suaranya kemrosok dari radio tua.
Sambil rebahan dan males-malesan, earphone yang belum musim kala itu enggak jadi masalah. Yang penting, rock and roll!
Gue cuma nungguin sinyal, nungguin temen-temen nongol di depan rumah, jemput gue buat main bola.
Tentu saja, bolos ngaji lagi sore itu.
Buat gue, pertanyaan "buat apa ngaji?" itu udah terjawab otomatis. Karena, mending main bola. Mending lari-larian di lapangan sampai lutut luka, celana kotor kena lumpur, dan pulang menjelang Magrib dengan napas terengah-engah tapi hati gembira.
Lagian, feel-nya anak kampung mana bisa menolak ajakan main bola?
Itu udah kayak panggilan suci.
Sayangnya, playlist Guns N' Roses sore itu terputus paksa.
Baru juga mau masuk ke lagu paling asyik, Paman gue manggil.
Bukan buat bantuin betulin genteng, tapi nyuruh gue nemuin guru ngaji kami, Ustadz Latif.
Sambil ogah-ogahan, gue dateng.
Ustadz Latif senyum tipis, lalu menawarkan sebuah hal yang paling enggak nyambung sama hidup gue: les Bahasa Inggris.
Gue spontan menolaknya mentah-mentah.
"Buat apa, Tad? Enggak ada gunanya," ujar gue, yang mungkin kedengeran sedikit kurang ajar—tapi, Jujur.
Ustadz Latif, tahu banget track record gue yang anti-belajar, enggak langsung ngegas. Dia cuma senyum lagi.
"Jangan begitu, Put. Ini les Bahasa Inggris. Bukan cuma berguna buat sekolah, tapi juga..." Ustadz Latif sengaja menggantung kalimatnya, matanya nakal.
"...ada Faza di sana."
Mendengar satu nama itu, tubuh gue yang tadinya males-malesan langsung tegak kayak tiang.
Faza.
Dia sebaya sama gue, sama-sama kelas 3 SMP.
Tapi percaya deh, dunia kami terpisah oleh jurang yang paling dalam.
Faza itu cantik, wajahnya tipikal manis, dan pembawaannya selalu ceria.
Dia adalah siswi teladan, anak kesayangan guru, rajinnya enggak ketulungan.
Sementara gue?
Ah, enggak usah ditanya.
Gue masuk sekolah cuma kalau ada ujian aja. Seragam gue lebih sering kotor daripada bersih. Udah enggak kehitung berapa kali gue kena tampar guru karena segudang kasus yang gue bikin. Berantem, bikin onar, vandalism—itu udah jadi playlist harian hidup gue.
Gue tahu diri. Faza adalah Putri Salju di mata semua orang, sementara gue?
Gue adalah sampah masyarakat di mata sekolah.
Tapi, begitu tahu les itu ada Faza... well, tiba-tiba Bahasa Inggris kedengeran worth it juga.
Pembaca mungkin mikir, gue langsung nyambar,
"IYA, USTADZ! LANGSUNG DAFTAR!" demi liat Faza.
Tapi, enggak. Ada jeda panjang di sana.
Gue bukan cuma bego dalam pelajaran, tapi gue juga sadar diri.
Gue memang naksir, tapi gue juga tahu siapa gue. Gue itu si pembuat onar, si anak sekolah yang seragamnya bau rokok (walaupun enggak ngerokok, tapi nongkrongnya di sana).
Gue tahu, bahkan kalau gue bersih selama setahun penuh, Faza enggak akan pernah ngelirik gue.
Jangankan pacaran, buat diajak ngobrol casual aja kayaknya dia udah waspada.
Jadi, energi suka itu gue alihkan.
Bukan untuk PDKT (Pendekatan), tapi buat membuktikan sesuatu.
Gue pun menerima tawaran les itu.
Bukan buat jadi siswa teladan, bukan buat bikin nilai rapor bagus.
Gue belajar Bahasa Inggris tiap sore, minimal satu jam penuh, cuma biar dia terkesan.
Gini logikanya: Kalau gue enggak bisa jadi pacarnya, setidaknya gue harus bisa jadi saingan di kelasnya.
Gue pengin ada satu hal aja yang bisa gue pamerin di depan Faza. Satu hal yang bikin dia terpaksa mendongak dan ngelihat gue. Supaya dia mikir,
"Wait, anak nakal ini ternyata bisa serius juga ya?"
Gue pengin dia tau, di balik bocah yang suka bikin kasus ini, ada otak yang bisa dipake, setidaknya buat ngomong 'How are you?' dengan benar.
Maka, resmilah gue jadi murid les Bahasa Inggris. Tentu saja, tempatnya di rumah Ustadz Latif.
Gue yang biasanya paling benci sama buku, sekarang harus berhadapan sama materi pertama: Part of Speech. Kata benda, kata kerja, kata sifat—semuanya masuk ke kuping, tapi di otak gue cuma terdengar kayak mantra sihir kuno yang sama sekali enggak nyambung.
Tapi gue enggak nyerah.
Enggak mungkin!
Bayangan Faza ada di sana. Dia duduk anggun, dikelilingi anak-anak rajin lainnya, fokus ke papan tulis.
Demi Faza, gue yang tadinya paling anti-berbicara di kelas, tiba-tiba jadi rajin bertanya. Bahkan untuk hal-hal remeh yang sebenernya enggak penting-penting amat, gue angkat tangan.
Gue sengaja melakukannya dengan suara yang keras dan yakin, memastikan Faza denger suara gue.
Itu semacam silent shoutout dari gue, seolah bilang:
“Lihat, aku ada di sini. Dan aku juga pintar.”
Gue harus show off. Gue harus jadi pusat perhatian. Kalau enggak bisa jadi crush-nya, setidaknya gue bisa jadi distraction terbaik di kelasnya.
Ironis memang. Begitu keluar dari rumah Ustadz Latif, gue langsung kembali ke habitat asli.
Di luar les, gue masihlah Putra yang lama: anak nakal, rajin bolos, dan spesialis pembuat onar. Tempat nongkrong favorit gue? Rental PlayStation.
Di sana, gue bukan sampah masyarakat. Gue justru sangat dihormati. Julukan gue di sana: "Raja PS".
Rental PS itu udah kayak rumah kedua, dan skill gue main game emang enggak main-main. Gue sering banget bantu teman-teman menamatkan game yang udah bikin mereka frustrasi.
Kontradiksi inilah yang bikin gue jadi suka iseng di kelas les.
Gue enggak cuma bertanya soal Part of Speech yang bikin mumet. Gue sengaja nanya istilah-istilah Bahasa Inggris aneh. Istilah yang gue ambil dari dialog game yang gue tamatin atau dari subtitle film yang gue tonton saat bolos.
"mister, kalau 'You've activated my trap card!' itu Part of Speech-nya gimana?"
"arti dari 'Execute Order 66' yang bener itu apa sih?"
Gue ngelakuin ini bukan cuma buat tahu artinya. Tapi buat memastikan Faza tahu: gue ini anak nakal, iya.
Tapi gue nakal yang berwawasan. Gue ini gamer yang bisa quote dialog Bahasa Inggris, bukan cuma jago berantem doang.
Guru les kami adalah seorang cowok muda, murid kesayangan Ustadz Latif yang sengaja dipanggil buat ngajar.
Dia itu tipikal cowok yang bikin mata Faza auto-lirik. Pintar, ngomongnya santun, penampilannya rapi. Jelas, dia adalah tipe pria perfect yang bakal diidam-idamkan Faza.
Sialan. Enggak butuh waktu lama buat gue sadar. Guru les ini juga naksir Faza.
Plot twist yang enggak enak banget. Saingan terberat gue sekarang bukan lagi musuh bebuyutan di sekolah, melainkan ada di dalam ruangan les ini.
Dia berdiri di depan, sambil pegang spidol, menjelaskan past tense dengan senyum karismatik.
Tapi enggak apa-apa. Gue buru-buru sadar diri lagi.
Fokus, Putra. Lo di sini cuma buat pamer, bukan buat nikung.
Cukup gue belajar rajin supaya Faza terkesan. Itu aja, enggak perlu punya ambisi lebih jauh buat ngedeketin atau jadi pacar. Target gue cuma satu: bikin Faza terkejut.
Sayangnya, pengorbanan gue untuk les ini cuma setengah hati.
Begitu jarum jam menunjukkan malam, Putra yang rajin langsung fade out.
Gue masihlah gue dengan kenakalan yang mendarah daging.
Setiap malam, gue dan kelompok gue rutin nongkrong. Kami berkeliling kompleks buat kumpul, atau janjian di rental PS sampai larut malam. Enggak jarang juga kami begadang kalau lagi libur.
Dan besoknya? Tentu saja, kami bolos sekolah lagi.
Gue tahu gue ini penipu.
Menipu diri sendiri, menipu orang tua yang berharap, dan menipu Faza yang melihat gue seolah-olah gue adalah anak yang 'berubah'. Gue pakai topeng rajin cuma di ruangan les itu, dan melepaskannya begitu gue keluar.
Dua kehidupan yang enggak seimbang. Antara gamer ulung di rental PS, dan wannabe anak pintar di depan Faza.
Waktunya tiba: Ujian Akhir Sekolah (UAS) SMP.
Buat dapetin kartu ujian, gue enggak punya pilihan. Gue harus memberanikan diri datang ke sekolah dan menghadap para guru. Gue tahu betul, risikonya adalah paket lengkap: jeweran, tamparan, dan wejangan panjang yang bikin kuping sakit.
Dan benar saja.
Kesan pertama gue sampai di sekolah jauh dari kata ramah. Begitu kaki menginjak teras, kuping gue langsung kena jewer dan panas, diiringi nasihat yang panjangnya melebihi ceramah Aa Gym—bikin kuping pengang.
Gue cuma bisa nunduk. Dalam hati, rasanya pengen banget jepit mulut staf TU yang angkuh itu pake jepitan jemuran pas dia bilang, "Potong rambut gondrong itu, berandal!"
Tapi gue enggak peduli. Bodo amat. Yang penting, gue bisa dapat kartu ujian biar bisa ikut tes. Dan yang paling utama: enggak diomelin orang tua karena enggak bisa ikut ujian.
Ajaibnya, gue lulus juga dari SMP. Nilainya enggak jelek-jelek amat buat ukuran anak yang kerjaannya bikin onar.
Setelah itu, les Bahasa Inggris di rumah Ustadz Latif langsung gue sudahi. Misi tercapai. Gue akan pindah. lanjut SMA di Jakarta.
Malam-malam sebelum gue pindah rumah dan pindah kota, gue cuma bisa menyambangi rumah Faza dari kejauhan. Gue memandanginya dari balik pohon di sudut komplek.
Saat itu, rasanya pengin banget gue lari, ketuk pintunya, dan bilang semua alasan di balik kegilaan gue belajar Part of Speech dan kosakata aneh dari game PS.
Gue pengin dia tahu, semua itu gue lakuin buat narik perhatian dia.
Tapi, gue sadar lagi. Sadar diri.
Di mata dia yang seorang siswi rajin dan perfect, gue hanyalah sampah. Anak nakal yang cuma bisa pamer skill dari game dan bolos.
Jadi, gue enggak sempat berpamitan. Gue pergi begitu saja, membawa semua rasa suka dan rasa tidak layak itu. Selesai. Babak SMP ditutup dengan ending yang menggantung.
Pindah ke Jakarta: The New Mission
Ayah gue, yang sebenernya pegawai Pemprov di Jakarta dan punya karir lumayan, akhirnya sadar.
Dia tahu gue sudah terlalu larut sama lingkungan kampung yang jauh dari pantauan orang tua.
Keputusan final pun dibuat: gue harus pindah ke Jakarta dan masuk SMA Negeri.
Gue cabut dari kampung itu, membawa dua hal: satu, kemampuan Bahasa Inggris yang anehnya tetap nempel di otak; dan dua, kenangan Faza—Naga pertama gue—yang sekarang wujudnya cuma ada di kepala, enggak lagi nyata.
sebelum pindah, gue juga sering menatap langit malam dan ngeliat bintang.
Emang agak aneh buat anak selengean kaya gue, tapi serius, itu semacam tombol pause buat hidup yang berjalan dengan onar, kebiasaan yang nenangin.
Di sela itu, sesekali gue inget Faza, sesekali cuma menikmati suasana malam. Tapi anehnya buat anak nakal kaya gue, hal seperti itu bikin isi kepala gue kadang dapet pelajaran hidup.
Dan pelajaran dari Naga pertama ini mahal banget:
Mungkin gue jadi rajin bukan karena gue suka belajar. Gue rajin cuma buat cari validasi, buat maksa mata seseorang ngelihat gue. Motivasi yang datang dari luar diri—entah dari Faza, rasa takut diomelin, atau pengin pamer.
Lalu gue sadar,
motivasi kayak gitu emang bisa bikin gue sukses sesaat, tapi bakal bikin gue jatuh hampa pas sumber motivasi itu udah hilang. Motivasi yang sebenarnya adalah Motivasi yang keluar dari dalam diri gue sendiri, murni karena gue suka sama prosesnya, bukan karena outcome-nya buat orang lain.
Itu adalah rasa ingin tahu yang enggak bisa dibayar, haus akan skill baru, dan ambisi untuk ngalahin diri gue yang kemarin. Gue belajar Bahasa Inggris bukan buat bikin Faza terkesan lagi, tapi sesimpel karena gue pengen bisa ngomong Bahasa Inggris lebih dari sekedar how are you.
Gue pun mengemasi barang dan pergi ke Jakarta seorang diri. Sempet ditawarin dianterin sama saudara, tapi gue nolak.
"Aku bukan anak kecil lagi, Paman," kata gue.
Aneh banget kedengerannya, mengingat gue cuma anak kelas 3 SMP. Tapi ya begitulah.
Di Jakarta, gue dijemput sama Ayah gue.
Dia adalah pria yang meskipun punya anak seberandalan gue, tetap sabar dan baiknya luar biasa.
Ayah gue ini sebenernya sangat religius. Salat lima waktu di masjid enggak pernah bolos. Nah, gimana ceritanya beliau bisa punya anak kayak gue?
Itu adalah anomali yang sampai sekarang enggak pernah gue mengerti.
Mungkin gue anak yang tertukar di rental PS.
Ayah gue itu tipe yang jarang banget marah, apalagi membentak.
Beliau cuma sesekali menunjukkan sikap kecewa lewat tatapan diamnya.
Dan percaya deh, itu cukup buat bikin gue malu sampai ke tulang. Rasa bersalahnya lebih parah daripada dimaki-maki.
Sesampainya di rumah Jakarta, gue disambut sama Ibu dan adik kecil gue. Atmosfernya beda banget dari kampung, lebih rapi, lebih ramai.
Malam-malam sebelum masuk SMA, gue coba berbaur. Naluri anak nakal gue langsung on lagi, nyari celah kenakalan di lingkungan baru.
Gue sempet nongkrong sama anak-anak kompleks dan menghabiskan segelas anggur merah.
Tapi, cuma itu saja. Gue coba sekali. Rasanya aneh, gue enggak suka. Gue lakuin cuma biar diterima di tongkrongan, biar enggak dicap cupu.
Setelah malam itu, gue memilih menjauh dari semua tawaran mereka.
Jatah penyesalan di kampung udah cukup. Gue enggak mau lagi mengecewakan tatapan Ayah yang pendiam itu.
Akhirnya, setelah pengumuman, gue lolos dengan NEM yang paling rendah.
Yah, gapapa lah, lumayan bisa masuk SMA negeri.
masa SMA pun dimulai.
Hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa) di SMA, gue serasa ayam yang kehilangan induk, celingak-celinguk, kaya orang pea pokoknya.
Pagi itu ramai banget, chaos. Gue bingung, dan gue cuma sendirian. Sementara anak-anak lain udah berkelompok sama teman-teman SMP mereka yang sama. Mereka ketawa, bisik-bisik, nyaman di lingkaran kecil mereka.
Tapi gue bukan anak cupu. Meskipun gue datang dari kampung dan sendirian, profil berandalan gue langsung siaga. Gue siap hadapi apa pun hari itu—termasuk senior-senior sok berkuasa yang, seperti biasa, nyuruh kami pake atribut aneh pas MOS.
Gue masuk di kelas X-3. karena lumayan gampang bergaul. Dengan cepat, gue berhasil kenalan sama beberapa siswa baru. Gue tahu cara menempatkan diri, dan dalam hitungan jam, gue udah dapet teman baru buat diajak nongkrong.
Di tengah kehebohan MOS, tibalah Demo Ekskul. Vibes-nya kayak pasar malam, tapi barang dagangannya adalah kegiatan yang bakal menentukan nasib lo setahun ke depan.
Gue yang anak kampung, clearly enggak sreg sama yang namanya Deutsch club atau Kelompok ilmiah. Gue milih Pecinta Alam. Pikir gue santai: di kampung gue hobi main di kebun, berarti ini paling cocok.
Ya, sesederhana itu logikanya. Padahal, diam-diam gue pengin banget ikut Teater, tapi rasanya itu cuma buat anak-anak kota yang gaul. Minder duluan!
Betapa naifnya gue!
Ternyata Pecinta Alam itu ekskul yang ekstrem dan literally isinya cuma daki gunung. Dan karena saking ekstremnya, ekskul itu sepi peminat. Tapi bodo amatlah, yang penting gue bisa nyelip dan enggak dicap cupu.
seiring berjalannya bajay di jembatan lima, pelan-pelan, ada perubahan yang enggak gue sadari. Peraturan ketat SMA Negeri Jakarta itu kayak rem tangan otomatis.
Gue jadi enggak bisa bolos lagi, minimal karena harus bangun pagi, gue jadi rajin tidur sore.
Rental PS udah jadi museum buat gue. Gue masih siswa biasa aja—nilai pas-pasan—tapi setidaknya, Naga Kebiasaan Lama itu udah mulai ciut dan enggak agresif lagi.
Namun, di dalam kelas, ceritanya beda.
Di tengah lingkungan SMA Negeri yang kompetitif ini, mood nakal gue masih kebawa. Semester satu, nilai gue masih ancur. Gue masih kayak ayam sayur yang berusaha menyesuaikan diri sama standar ibukota.
Ada aja kebodohan yang gue bikin, dan yang paling parah, gue pernah disidang karena ketahuan merokok di area sekolah.
Gue sadar. Naga Kebiasaan Lama itu masih setia ngikutin gue dari kampung. Pindah tempat enggak lantas bikin jiwa gue bersih. Gue memang udah berpisah sama Faza, tapi gue belum berpisah sama diri gue yang lama.
Akhirnya, dengan nilai yang ngepas banget, gue naik ke Kelas 2.
Di momen ini, nasib gue benar-benar di-prank habis-habisan.
Ada pembukaan anggota OSIS. Karena Pecinta Alam punya peminat sedikit banget, dan tiap ekskul wajib punya perwakilan... voila! Cuma gue yang "tersisa" dan "berpotensi" jadi anggota.
Gue ikut aja, batin gue. Biarin, yang penting banyak teman.
Tiba-tiba, gue yang dulunya tukang bolos, sekarang punya peluang terjebak di lingkaran kompetitif anak-anak terbaik sekolah. Rasanya kayak ayam kampung masuk istana.
Bukan karena skill otak, tapi karena keterpaksaan kuota. Welcome to the jungle, Boy!
Terus, gimana kabar Faza?
Cuma Tuhan dan Facebook yang tahu.
Kami benar-benar lost contact. Gue cuma bisa stalking lewat search engine, berharap dia udah punya akun biar gue bisa ngintip kehidupannya dari jauh. Dia udah menjelma jadi Naga yang cuma tinggal kenangan—indah, tapi enggak nyata.
Tapi si Naga ini, dia masih ngumpet di pojokan hati buat gue gila-gilaan belajar Bahasa Inggris di SMA.
Guru Bahasa Inggris gue yang jeli, ngeh sama sisa-sisa obsesi konyol gue di SMP itu. Beliau ngasih gue kesempatan ikut lomba debat antar-SMA.
Jujur, gue kalah. Gue enggak biasa, dan lidah gue kaku.
Tapi, setidaknya gue nyoba. Itu udah jadi pencapaian baru yang epic buat anak berandalan kayak gue.
Anak nakal dari kampung mau masuk OSIS dan ikut debat? Gokil.
Pepatah sejuta umat memang bener: "Bisa karena biasa."
Gara-gara diceburin ke lingkungan SMA Negeri yang super kompetitif ini, otak gue yang dulunya isinya cuma cheat code PS, kini mulai loading materi pelajaran.
Tiba-tiba aja, gue jadi suka belajar.
Nggak ngerti juga kenapa.
Setahun lalu gue masih di-cap sampah masyarakat, eh sekarang naik kelas 2, gue berhasil dapet Ranking 3 di kelas.
Guru-guru di sekolah heran. Teman-teman gue yang ambis juga heran. Gue? Jangan ditanya. Gue yang paling heran sendiri! Rasanya kayak menang lotre tapi enggak pernah beli kuponnya.
Satu hal yang gue sadar, di masa-masa itu gue senang banget membaca. Gue melahap apa pun—buku pelajaran, novel, sampai cara siswa-siswi di sana bersosialisasi. Intinya, gue jadi hobi membaca orang.
Pencapaian ini, gue yakin, adalah hadiah perpisahan dari Naga pertama gue, si Faza. Obsesi konyol gue di SMP akhirnya jadi legacy yang berguna. Gue belajar Bahasa Inggris, demi diri gue sendiri.
Finally! Motivasi gue udah di-upgrade dari luar ke dalam.
Naik ke Kelas 2, gue resmi jadi anggota OSIS, perwakilan Pecinta Alam yang nyaris punah.
Vibes gue udah beda. Gue udah sedikit lebih rapi, lebih disiplin, dan punya pencapaian (walaupun cuma Ranking 3).
Gue bukan lagi 'ayam sayur' yang kerjanya cuma disidang. Gue udah jadi ayam yang agak mahal.
Di sana, di lingkaran elit siswa-siswi berprestasi (yang awalnya gue masuki karena keterpaksaan kuota), kisah baru dimulai. Lingkungan yang ambisius ini adalah arena sempurna buat ketemu sama Naga kedua.
=================
(Aku Gladys, Ka)
Menjadi anggota OSIS, jujur, adalah titik balik paling enggak terduga di fase pencarian jati diri gue.
Awalnya, mikir cuma bakal ketemu anak-anak lurus, pinter, dan rajin absen. Ternyata, OSIS itu semacam portal yang membuka banyak hal baru.
Tapi ya, memang ada misteri alam semesta yang bekerja untuk ngumpulin kita sama orang-orang yang satu frekuensi. Dan hidup, entah kenapa, membawa gue masuk ke lingkaran itu, tepat di tengah-tengah kesibukan OSIS.
Di sana, gue mulai kenalan sama beberapa siswa dari kelas lain yang sebelumnya cuma tahu nama. Orang-orang yang, gue belum sadar, bakal jadi sahabat-sahabat terbaik di tahun-tahun berikutnya. Ada tujuh orang, termasuk gue, yang kemudian membentuk sebuah 'kelompok'.
Kami ini diikat oleh kesamaan nasib. Kalau negara kita merdeka karena nasib dijajah Belanda, persahabatan kami terjalin gara-gara nasib yang sama: dijajah oleh ketua OSIS kami sendiri. Namanya Tika.
Tika itu tipikal ketua OSIS yang karakternya strong: tegas, disiplin, dan to the point sampai kadang nusuk.
Sementara kami? Ya, kami ini adalah anggota OSIS yang di mata Tika mungkin hanya remah-remah, siswa-siswa yang nakal, selengean, dan menganut prinsip keramat: "selow aja" dalam segala urusan.
Pembentukan kelompok itu terjadi saat OSIS menggelar acara Nuzulul Qur'an. Kami, seperti biasa, jadi panitia dengan tugas masing-masing.
Dan lo mungkin bisa menduga, karna gue anak pecinta alam, Otomatis, posisi gue selalu Perlengkapan.
Tugas yang 'mengandalkan otot'- gotong, susun, dan beresin barang.
Selesai acara, semuanya lagi dalam mode lelah total. Tiba-tiba, dari ujung ruangan, terdengar suara Tika lagi ngomel-ngomel. Target omelannya?
Beberapa anak yang lagi selonjoran, yang gue belum akrab tapi udah kenal tampangnya.
Gue memperhatikan dari jauh.
Mereka cuma pasrah sambil menunduk. Capek fisik, kena semprot pula.
Gue beranjak, lalu berjalan mendekat. Enggak ngomong apa-apa, gue cuma ambil posisi, ikut duduk di sebelah mereka yang lagi istirahat—sambil nikmatin sisa-sisa es buat berbuka tadi.
"Put, lu mau ikut nongkrong ga abis ini?"
Tiba-tiba Hasan, anak divisi Humas OSIS, yang tadi kena semprot, nawarin.
Matanya kelihatan capek, tapi senyumnya nawar.
"Ayo aja," jawab gue santai. "Nongkrong di mana?"
"Di Warde, warung Bude. Ikut aja nanti," katanya.
"Oke."
Di momen itu, kami semua saling pandang sesaat—tatapan yang isinya campur aduk antara lelah, kesel, dan rasa ingin kabur. Setelah itu, tanpa perlu banyak kata, kami merapikan peralatan terakhir, membersihkan ruangan, lalu bergegas menuju Warde.
Perjalanan ke Warde terasa kayak konvoi para pemberontak dari markas musuh.
Hasan si Humas, naik motor bareng Reza, si anak Paskib yang menjabat 7K (Keamanan dan Ketertiban Sekolah). Di belakang mereka, ada Hadi, si Ketua Eskul Futsal, yang ngebonceng Rasyid, Ketua Bidang Olahraga. Mereka berdua ini pure atletik, beda sama kami yang atletik cuma pas lari dari tugas.
Sisanya, kami naik motor sendiri-sendiri. Ada Destyan, yang sebenernya 'pejabat teras' OSIS tapi tipe pembangkang anti-Tika. Ada Yuda dari Pramuka. Dan gue.
Terakhir, yang paling ikonik, ada Ihsan dengan Vespa tuanya yang suaranya paling berisik.
Kami berjalan beriringan, cuma sekitar sekilo dari gerbang sekolah, menuju satu-satunya tempat yang paling pengertian sama dompet anak sekolahan: Warde, alias Warung Bude.
Begitu sampai, kami langsung pesan minuman ringan. Enggak peduli lagi soal image anak OSIS, yang penting cooling down. Kami duduk melingkar, hawa-hawa tegang karena Tika perlahan menguap, berganti jadi tawa dan gerutuan.
Obrolan kami, jelas, enggak jauh-jauh dari event hari itu dan betapa ngeselinnya perlakuan Tika yang bikin emosi naik ke ubun-ubun.
Sebenarnya, kami tahu Tika itu baik. Dia cuma pengin acara berjalan mulus dan sempurna. Tapi, namanya juga kami, anak-anak muda yang naif dan maunya serba santai. Cara Tika yang tegas dan to the point itu jadi terasa kayak cambukan di hari yang udah capek banget. Intinya, approach-nya Tika emang kurang selow buat kami.
Di tengah sesi curhat yang udah mulai memanas itu, Hasan tiba-tiba nyeletuk.
"Gini aja..." Hasan senyum lebar, iseng, tapi serius. "Kita bikin aja namanya A3BT. Singkatannya: Angusin, Ancurin, Abisin, Bakar Tika."
Sontak, kami semua tertawa ngakak. Ide namanya gokil abis, dan relate banget sama emosi kami saat itu.
Meskipun iseng, kami semua sepakat. Nama itu resmi kami pakai untuk kelompok kecil yang baru lahir ini—lahir dari kelelahan, rasa emosi, dan ikatan nasib karena ketua kami yang galak.
Tentu saja, lo tahu, itu bukan makna literal. Kami sayang Ketua OSIS kami. Dia galak, tapi dia yang paling bertanggung jawab. A3BT hanyalah kode, ikatan brotherhood antara kami, semacam sumpah konyol yang menegaskan kami satu suara di bawah tekanan.
Sejak hari itu, OSIS angkatan kami punya 'satuan elit' rusuh-rusuh baru yang enggak tertulis di AD/ART mana pun, tapi eksis di hati kami: A3BT.
Kami ngejalanin jabatan di OSIS dari Kelas 2 sampai Kelas 3. Gokil. Gara-gara kebanyakan acara dan project, kami bertujuh jadi makin akrab. Makin sering nongkrong bareng, ngumpul bareng, dan selalu ada aja kejadian konyol yang wajib banget di-ceritain ulang.
Pernah nih, pas ada acara Meeting Class yang butuh koordinasi intens, kami ber-tujuh memutuskan nginep di rumah gue. Alasannya simple: biar besok enggak telat, padahal niatnya cuma mau nongkrong aja.
Paginya, jelas kami kesiangan. Alarm udah kalah sama suara ngorok Ihsan.
Masalahnya jadi double sial: Kunci Ruangan OSIS yang sakral itu ternyata dibawa Rasyid! Semua langsung panik maksimal. Kami tahu persis, kalau sampai telat buka ruangan, Tika bakal ngamuk dengan level 9.9 SR (Skala Richter).
Tanpa babibu, kami cuma sempet nyomot gorengan yang udah disiapin Nyokap gue, mandi kilat (entah mandinya beneran bersih atau cuma kena air doang), lalu langsung OTW ke sekolah bareng-bareng. Suara Vespa butut si Ihsan jadi soundtrack panik kami pagi itu.
Sampai di sekolah, kami sprint menuju ruang OSIS, dan bener aja, Tika udah nunggu di depan pintu.
Wajahnya udah kayak awan mendung mau badai. Kami tahu, kami enggak bisa kabur. Dengan nafas terengah-engah, kami disambut sama 'selamat pagi' Tika yang manis dan menusuk jiwa:
"Tolol lu semua!! Kunci ke mana?! Kalian pikir ini jam berapa?!"
Kami cuma cengo, saling tatap dengan ekspresi 'mak lampir galak bener'. Tapi kami anak OSIS, jiwa profesionalisme kami terpanggil. Kami langsung kerjain semua yang harus dikerjain, termasuk check peralatan.
Gue sama Hasan (si penggagas A3BT) dapet tugas jagain net biar bola voli enggak nyasar dan mecahin jendela kelas. Sambil beresin net yang udah kayak sarang laba-laba kena angin topan, gue ngobrol ngalor-ngidul sama Hasan.
Tiba-tiba, di tengah obrolan filosofis kami tentang terbuat dari tanah apa si Tika, apakah tanah gusuran atau tanah sengketa, sebuah bola voli meluncur kenceng banget dan mengenai kepala Hasan tepat di bagian belakang. DUK!
Gue kaget, tapi sori san, gue pengen ngakak.
"Gapapa lu?" tanya gue sok prihatin, padahal nahan ketawa.
Hasan diem. Dia enggak bergerak. Mungkin karena perasaannya campur aduk habis diomelin Tika, ditambah lagi kepalanya kesepak bola voli. Dia lagi 'ngelag' dikit.
"Aman... aman," jawabnya datar, setelah reboot beberapa detik.
Terus kami lanjut beresin net. Ekspresi mukanya kayak abis ketemu pocong mumun. Pucet.
Waktu istirahat class meeting.
Warde adalah tujuan suci kami. Sambil sarapan kesiangan dengan khidmat, kami kembali ke rutinitas utama: ngomel-ngomel dan mengutuk 'salam hangat' super ramah dari Tika pagi tadi.
Dari kejadian itu, intensitas clash antara squad kami (si A3BT) sama kelompok Tika (si disiplin garis keras) udah enggak ketahan lagi. Gesekan kecil tiap hari lama-lama bikin suasana ruang OSIS serasa neraka.
Kami sepakat: harus rundingan di ruang OSIS biar masalah ini kelar dan enggak berlarut-larut kayak sinetron.
Maka terjadilah, Rapat Akbar yang lebih tegang dari sidang kabinet.
Rasyid si emban olahraga, langsung nonjok dengan kata-kata menusuk. "Lu jadi orang sok banget! Ngatur boleh, tapi cara lu norak!" Waduh, skill 1 dulu lah bos main Ulti aje.
Tika, yang emang jago counter-attack, balas dengan jurus patok perbatasan Rusia: "Lu tahu kan Nur kemarin nangis gara-gara lu semua?!"
Di situ ada Rini dan Nur yang ikutan mewek dan udah mulai sesenggukan dramatis.
Dan plot twist yang enggak terduga: Demi melihat cewek-cewek itu mewek, Rasyid yang tadi ngegas sekarang malah ikut mewek juga!
Gue bingung. Kenapa juga dia harus mewek? Mungkin Rasyid ini tipe cowok yang gampang terharu. Ternyata besoknya dia cerita, pulsa dia abis kesedot NSP.
Tapi di situ gue sadar, meskipun kami clash gila-gilaan, sebenernya kami saling sayang satu sama lain antar anggota OSIS. Kami cuma belum dewasa aja.
"Ya lu biasa aja mangkannya," sahut salah satu dari A3BT, mencoba mendinginkan suasana sambil masih bingung sama Rasyid.
Anggota A3BT yang lain juga ikutan berdialog, suasana tegang campur haru.
Sementara gue? Gue cuma diem dan coba nenangin suasana yang absurd ini.
Tiba-tiba, gue nyeletuk, karena mood gue udah pengen cepet-cepet kelar:
"San, gue tau perut lu panas kan? Abis ini baks lah kita, minum Sandy di Warde!" (Maksud gue: Ngopi, Guys! Abis ini nongkrong di Warde!)
Dan ajaib. Semua yang tadinya tegang dan sesenggukan, tiba-tiba ketawa ngakak denger celetukan random.
Perselisihan pun selesai dengan musyawarah mufakat yang lebih mulia dan nggak jelas daripada Perundingan Linggarjati.
Di akhir masa jabatan, menjelang UN, kami makin kompak. Walaupun masih ada clash kecil, tapi kami udah makin dewasa ngadepinnya. Mungkin karena udah Kelas 3, fokusnya udah bergeser: Naga Tika udah kalah sama Naga Ujian Nasional!
Menjelang akhir masa jabatan OSIS, kami dapet misi terakhir yang sebenernya dulu gue males : ngurusin MOS.
Tapi bener kata netizen di seluruh dunia, "Jangan benci terlalu, sebab bisa jadi itu akar dari cinta."
Ternyata jadi senior lumayan seru, minimal bisa pura-pura tegas walaupun setegas-tegasnya anak A3BT tetep menjunjung tinggi kode etik : selow aja.
MOS dilaksanakan sebulan sebelum puasa. Dan bukan kabar mengejutkan kalo posisi gue masih di tempat keramat yang sama: Perlengkapan.
Tugas gue cuma jagain tumpukan koran (atribut peserta) di Ruang OSIS, dan jadi babysitter buat peralatan. Job desk yang low effort banget buat Rank 3 kayak gue.
Tiga hari berturut-turut, di hari ketiga, mood gue udah nyentuh dasar jurang kebosanan. Siang itu, gue iseng parah. Gue gunting-gunting koran, terus gue tempel di tembok Ruang OSIS bikin komik strip ngocol yang storyline-nya cuma satu: Tika vs. A3BT.
Hasilnya? Nur sama Rini sampai cekikikan ngeliat masterpiece gue. JiMisi tercapai: bikin anggota OSIS ketawa.
Jam 2, menjelang bel pulang, gue feeling butuh udara segar. Gue memutuskan buat kabur ke lantai 2, tempat anak-anak baru lagi MOS. Ruang OSIS di lantai 1 udah sumpek bau koran.
Gue jalan muterin kelas satu-satu, nyariin Hasan sama Reza yang ilang. Gak taunya mereka ngadem di kelas X-5. Gue pun masuk. Ada Hasan, Reza, sama Rasyid lagi sok cool jagain kelas.
Gue langsung ambil posisi numpang duduk di meja guru, sambil sok-sok mengawasi.
Dan disitulah... Duduk seorang anak baru.
Detik itu juga otak gue langsung stuck. Yang keluar di kepala gue cuma satu kalimat: "Imut banget ini anak" Serius.
Tapi gue enggak panik, image anak OSIS harus tetap terjaga. Gue pura-pura merhatiin absensi. Padahal, wajah anak baru itu langsung gue scan dan gue tandain di list prioritas gue.
"Nama kamu siapa?" Tanya gue dengan nada sok cool padahal grogi.
"Aku Gladys, Ka"
_______________________________
(Buka puasa Gladys)
Beberapa hari setelah drama MOS itu, masuklah bulan suci Ramadhan.
Ramadhan tahun ini datang di bulan Agustus, bulan yang juga menjadi penanda berakhirnya jabatan OSIS kami. Akhirnya! Kami bisa pensiun dari kegalakan Tika.
siang itu, gue lagi enak-enak duduk santai di kelas gue. Kelas 3, boss!
Ngobrol ngalor-ngidul sama temen-temen. Tiba-tiba, gue liat dua anak baru nyelonong masuk ke markas senior. Namanya Adya sama Inez. Mereka langsung nongol di depan meja gue.
"Kak, nama aku Adya, aku pengen ngobrol sama Kakak," katanya to the point.
Gue kaget. Biasanya yang banyak fans dadakan kayak gini kalau enggak si Destyan, Hasan, Rasyid, ya Reza. Bukan gue!sparepart OSIS dari Pecinta Alam.
"Oh, ya Adya, gimana?" tanya gue sok cool padahal udah deg-degan.
"Aku mau bilang aku tertarik sama Kakak," jawabnya mantap.
Makin kaget gue! Gila. Anak kelas 1, berani nyamperin ke kandang macan dan ngomong begitu? Gue langsung angkat topi setinggi-tingginya buat keberanian anak ini.
"Adya kelas sepuluh berapa?" tanya gue, mencoba mencerna keberaniannya.
"Aku X-5, Kak."
Jleb. X-5. Kelas Gladys.
Gue dilema seketika. Di satu sisi, gue pengen banget menghargai keberanian dia. Tapi di sisi lain, jiwa muda gue yang naif langsung berteriak: "Lo bisa dapet nomor Gladys dari dia!"
Namun, gue enggak mau jadi brengsek. Gue ingat pelajaran tentang validasi diri dari Naga Pertama (Faza). Akhirnya, gue memilih jalur jujur yang ngena.
"Adya," kata gue pelan. "Kakak menghargai banget apa yang Adya lakuin. Tapi jujur, Kakak justru sekarang lagi ngincer temen kelas Adya. Namanya Gladys. Adya kenal?"
Adya tertegun. Sekilas, terlihat kilatan kecewa di matanya. Aduh,maaf ya Adya.
Tapi dia cuma angguk kecil. "Iya, Kak. Dia temen paskib aku juga. Kakak mau nomor dia?"
Makin jleb yakan.
Tapi, di sisi lain, Gue ditawarin! Ini anak super keren dan gentle banget.
Sebenernya gue bisa aja pura-pura tertarik ke Adya sebentar, deketin dia, cuma buat ambil nomor Gladys, tapi gue enggak mau jadi orang oportunis dan manfaatin dia.
Gue yakin Adya jauh lebih menghargai kejujuran gue. Itu balasan yang adil buat sikap dia yang berani kan?
"Iya Adya, gapapa kah?" tanya gue lagi, memastikan.
"Gapapa Kak, Adya ngerti," jawabnya sambil tersenyum tipis.
Dan begitulah, dengan cara yang paling enggak terduga dan paling canggung, gue dapet nomor Gladys.
Adya, si perempuan berani yang mungkin nggak akan jadi pacar gue, tapi bakal punya tempat di hati gue karena karakternya yang stand out. Terima kasih, pahlawan tanpa tanda jasa!
Misi mendapatkan nomor telepon Gladys berhasil!
Hari pertama bulan puasa! Vibes-nya beda. Waktu itu, gue yang masih polos banget (setelah tobat dari kenakalan), khusyuk berdoa setelah buka puasa pertama. Doa gue cuma satu, yang paling urgent buat anak single:
"Ya Allah, semoga puasa ini ada yang bangunin sahur."
Kayanya bakal terwujud, Karena gue udah dapet nomor Gladys si Naga Imut!
Jaman itu masih era SMS, bukan chat warna-warni. Gue langsung action. Tangan gue gemeteran ngetik text formal tapi sok asik:
Gue (Putra): "Assalamualaikum Gladys, ini ka Put yg waktu itu MOS di ruang X-5. Salam kenal."
Nunggu balesannya kayak nunggu loading game PS yang corrupt. Lama. Akhirnya dibales juga:
Gladys: "Waalaikumsalam, halo ka, salam kenal juga ya."
Yes! Balasannya sopan dan nggak kaku. Percakapan pun lanjut. Ngobrolin pengalaman masuk SMA (gue pura-pura lupa padahal masih fresh), dia cerita dia ikut Paskibra, dan soal awal puasa. Vibes-nya kayak talkshow tapi romantis.
Lalu Gladys cerita dia mau bukber di rumah temennya sama anak X-5. Tiba-tiba otak senior gue berputar cepat.
"Gimana kalau Kakak jemput kamu setelah bukber?" tawar gue, gentle tapi nggak maksa. Dia setuju!
Dan itulah hari pertama gue jemput dia. Gue nunggu di depan gang rumah temennya. Jantung gue udah kayak drummer metal.
Di bawah samar lampu jalanan oranye, dia muncul. Gladys pakai baju merah panjang dengan kerudung hitam. Ya ampun, dia cantik sekali. Gue? Gue cuma pakai celana three-quarter dan jaket almamater sekolah (biar kelihatan effortless cool). Kontras parah.
"Lama ya, Kak?" tanyanya lembut.
"Enggak, kok. Barusan banget sampe. Udahan acara bukbernya?" jawab gue, pura-pura cool padahal udah nunggu 20 menit.
"Udah, Kak."
"Yaudah, yuk pulang."
Malam itu, jadi malam pertama gue boncengin Gladys pulang ke rumahnya. Dan dia pakai parfum—dengan wangi parfum yang khas, yang wanginya langsung nempel di memori otak gue.
Sampai sekarang, kalau gue cium aroma itu, gue langsung teringat sama dia.
Di jalan, kami ngobrol ngalur-ngidul. Hati gue rasanya seneng banget, kayak lagi dapet achievement rahasia di game.
Kami sampe rumah Gladys pas Tarawih dimulai. Gue drop dia di depan gang rumahnya, lalu berpamitan.
"Mampir dulu, Kak," tawarnya.
"Makasih Gladys, Kakak langsung aja mau tadarusan," jawab gue.
bohong besar. Padahal gue mau nongkrong di Warde sama anak-anak A3BT buat sharing momen epic ini!
Malem itu, malam yang enggak akan gue lupain sampai kapanpun. Misi PDKT level 1, komplit!
==============
Beberapa hari setelah sukses jadi tukang ojek pribadi buat bukber, gue nggak mau buang waktu. Keberanian gue kumat lagi, dan gue memutuskan buat nembak Gladys.
Ya, walaupun keberanian itu gue utarain lewat SMS.
Tanggalnya 20 Agustus, tepat hari kesepuluh puasa.
Doa gue terkabul! Akhirnya, gue punya alarm sahur pribadi.
Kisah pacaran gue sama Gladys ini khas banget anak SMA, aneh, tapi nyata.
Kami enggak pernah makan di luar yang mewah, enggak pernah nonton bioskop (mahal woy), apalagi beliin dia bunga atau ngajak liburan. Low budget, high commitment.
Pacaran kami terjadi di sekolah. Waktu yang paling banyak kami habiskan nganterin dia balik dari sekolah.
Malam Minggu? Kami nongkrong bareng di rumah anak A3BT. Gladys udah akrab banget sama squad kami! Dia kayak member kehormatan A3BT.
Gue jadi tukang support multi-fungsi buat Gladys. Sesekali gue nganterin dia ke halte Transjakarta kalo mau ke rumah bibinya di Salemba. Pernah juga gue nganterin dia lomba Paskibra, sampai yang paling ribet, gue nganterin dia ke dokter buat cek fisik pas dia mau daftar Paskibraka.
Gue bukan cuma pacar, tapi sekretaris pribadi dan sopir ambulance daruratnya.
Tapi Gladys ini perempuan yang sangat unik. Dia itu campuran antara pintar, berani, dan nekat. Dia enggak manja.
Kadang, kalau Malam Minggu gue lagi mager, dia yang nyamperin ke rumah gue ngajakin main! Bayangin, cewek yang sat set sat set kayak gini.
satu waktu, gue papasan sama dia di koperasi sekolah. Dia mau jajan, gue baru selesai beli Coki-Coki. Gue tawarin dia, dia enggak mau.
Spontan aja, gue usap kepalanya—gestur yang biasanya gue lakuin ke adik gue. Dia cuma senyum malu-malu.
Satu hal yang paling ngena dari Gladys: Dia selalu cium tangan gue tiap kali kami selesai jalan berdua. Respect dan vibe sopan santunnya dapet banget.
Dengan cepat, gue dan dia saling menyayangi tanpa perlu setting romantis ala film Hollywood. Simpel, real, dan apa adanya kayak anak SMA yang lagi jatuh cinta.
============
Di tengah keharmonisan hubungan itu, gue dengan dongonya malah bikin penyakit
Sampe akhirnya tiba juga di fase konflik.
Konflik pertama kami cukup epic.
Gue, dengan segala kepolosan dan kegoblokan gue, malah curhat ke Gladys. Gue cerita betapa gilanya gue dulu sama seseorang.
Dan lu tau siapa yg gue ceritain?
Ya, Faza?!
Gue cerita betapa Faza jadi trigger konyol buat gue belajar Bahasa Inggris.
Gladys? Tentu aja dia panas.
Tapi nih, ini yang bikin dia unik di luar nalar. Bukannya ngambek delete contact, dia malah Add Faza di Facebook dan chattingan sama dia! Mereka jadi temenan!
Gladys bilang, "Aku kalo tau orang yang aku sayang ada cewek lain, aku kejar Kak cewek itu, aku jadiin temen."
Coba deh. Gimana gue bisa move on atau lupa sama perempuan yang level nyalinya udah kayak bos final game gini?!
Mungkin cewek lain udah main drama queen, dia malah main diplomasi tingkat tinggi.
Konflik kedua, ini pure salah gue.
Ini penyakit yang goblok banget dan susah disembuhin: rasa insecure.
Gue akuin, gue cuek ke Gladys.
Dia sih nggak masalah gue cuek, dia mandiri banget.
Tapi entah kenapa, kadang gue diserang perasaan random yang nyebelin: "Gue enggak pantas dicintai," atau "Pasti dia bakal ninggalin gue." Fix, gue overthinking level dewa.
Gara-gara insecure ini, gue kayak ngejauhin dia—padahal dia udah effort banget! Gladys kewalahan sama sifat gue yang plintat-plintut ini. Dia merasa enggak dihargain.
Alhasil? Kami jadi sering putus nyambung kayak colokan PS yang longgar. Semua berawal dari ketidakdewasaan gue dan self-destructing behavior gue.
Gue bilangin , kalau lo punya penyakit kayak gue, segera tobat!
Gue pengen lo belajar dari kegoblokan gue ini: Yakinlah sama apa yang lu pilih. Kalau lu milih seseorang, perjuangin dia, bukan malah kabur duluan karena insecure ga jelas.
Jangan biarin self-doubt lo jadi toxic buat orang yang udah effort banget buat lo! Nggak keren jadi cowok yang nggak yakin sama pilihan hatinya sendiri.
===================
Gue akhirnya lulus SMA.
Sementara gue cabut, Gladys naik ke Kelas 2. Dan gokilnya, dia tumbuh jadi Ketua Paskibra di angkatannya!
Naga Imut gue bener-bener level up jadi Jenderal.
Karena kami udah putus (berkat insecure dan kegoblokan gue sendiri), gue cuma bisa mantau dia dari status Facebook-nya. Ya ampun, dia beberapa kali jadian sama cowok lain. Gue tahu, sebagian cowok-cowok itu cuma jadi pelarian dia —terkesan cuma buat nutupin luka yang gue bikin.
Dada gue nyesek parah. Tapi gue tahu, rasa nyesek itu murni karena gengsi, insecure, dan kebodohan gue yang enggak bisa menjaga golden relationship kayak gitu. Kebegoan dengan hasil sulingan terbaik.
Akhirnya, gue pindah kuliah ke luar kota dalam keadaan kami masih putus.
Bye-bye, Jakarta. Bye-bye, Gladys.
===============
Gue kuliah di sebuah kota di Jawa Barat.
Awal masuk kuliah, vibes-nya emang beda. Gue ikut kegiatan kemah pengenalan fakultas yang ribet banget.
Gara-gara kecapean dan lupa makan (karena sibuk sok sibuk jadi mahasiswa), gue langsung tumbang. Dokter bilang: Tipus.
Akhir tahun itu, gue terpaksa balik ke Jakarta dan dirawat di rumah sakit selama sebulan.
Totalitas banget sakitnya!
Tentu aja, squad A3BT gue datang jengukin. Mereka ngasih wejangan dan ketawa ngakak ngeliat gue terkapar.
entah gimana ceritanya, Rasyid yang kebetulan temenan sama Gladys di BBM (zaman itu BBM masih hype), update status soal gue. Gladys pun nanyain kabar gue ke Rasyid.
Beberapa hari kemudian, setelah dikasih kode, dia datang jengukin gue ke rumah sakit.
Jujur, gue saat itu lagi mode Paling Tidak Layak Tampil Sedunia. Nggak cuma jarang mandi—kalian tahu lah gimana rasanya jadi pasien tipus, apalagi udah sebulan—muka gue udah kayak manusia goa. Awut-awutan parah.
Tiba-tiba, di tengah aura kamar rumah sakit yang bau obat, Datanglah dia. Naga Kecil gue, Gladys!
Gue speechless. Kaget, seneng, deg-degan kayak mau stand-up comedy pertama kali.
Dia datang berdua sama temennya. Jelas ini mode surprise total! Nggak ada kabar, nggak ada clue, modalnya cuma ketulusan dan sekotak kue (yang FYI, saat itu kue itu rasanya lebih enak dari semua makanan fine dining di Jakarta).
Saat dia nanya kabar gue, sumpah, gue nggak fokus sama pertanyaannya. Mata gue cuma tertuju ke dia. Lama banget gue natap—mungkin sedetik tapi terasa sejam—dan ya ampun, dia tetep cantik. Nggak berubah! Tetap Naga Kecil yang diam-diam selalu gue rindu dan sayang.
Dan ini yang bikin gue ngerasa tertampol realita keras: Gue ingat banget gimana dulu gue mutusin dia, gimana gue perlakukan dia seolah nggak penting.
Tapi dia? Dia tetap datang, menempuh perjalanan, cuma buat nemuin gue yang terkapar nggak berdaya. Definisi malaikat bersayap naga.
Kami ngobrol ngalor ngidul.
Obrolan kami mengalir pelan, dan di sela-sela cerita, mata kami sering bertemu. Itu bukan sekadar tatapan biasa, itu kayak dua sinyal radio yang frekuensinya udah lama hilang, tapi akhirnya bertemu lagi karena rindu yang terlalu kuat. Cieee.
Entah kenapa, vibe gue langsung naik 1000%!
Dan ini bagian paling absurd dari kisah gue: Karena rasa seneng yang overload itu, gue tiba-tiba ngerasa pulih! Badan gue yang tadinya lemas kayak agar-agar, tiba-tiba dapat energi turbo. Aneh, nggak masuk akal, tapi nyata! The Gladys Effect ini memang dahsyat!
Benar saja, besok paginya Dokter datang, senyum-senyum, lalu bilang: "Anda sudah membaik, bisa pulang."
Fix. Obat gue nggak ada di resep dokter, tapi di dalam diri seorang Gladys! Gila, ini sih bukan cuma penyembuhan, ini namanya kebangkitan!
===============
Awal Desember, akhirnya gue bisa hirup udara bebas selain udara beraroma disinfektan rumah sakit. Recovery di rumah pun dilanjut, soalnya badan masih lemes kayak jeli expired kelamaan rebahan.
Hal pertama yang gue lakukan? Jelas, langsung BBM Gladys!
Gue bilang ke dia kalau gue udah pulang dan dia seneng. Terus, dengan pede (dan jujur), gue kasih clue ke dia: “Iya, nggak tahu kenapa aku jadi sembuh total setelah kamu jenguk.”
Reaksi dia? Si Naga Kecil yang udah skeptis karena sering gue PHP-in dulu cuma bales: “Alah, gombal!"
Skakmat instan.
Obrolan kami nggak putus sejak pertemuan rumah sakit itu. Gue jadi tahu, ternyata dia sedang gap year sebelum kuliah, dan sekarang lagi kerja di apotek. Pantesan aura 'obat' dia manjur banget!
Dan yang paling penting dari semua obrolan: Dia masih single! (Puji Tuhan, self-healing dia nggak sampai lanjut punya pacar baru!).
Gue? Udah tobat dari insecure abis-abisan!
Nggak pakai mikir lama, gue langsung tembak official lagi! Gue ajakin dia balikan!
Sunyi. Dia nggak langsung bales. Double check BBM gue, Read doang!
Gue auto pasrah, ngerasa nggak pantes setelah semua drama yang gue buat. Sadar diri.
percakapan berhenti. Gue udah mikir, yaudahlah, emang belum rezeki.
Eh, tapi beberapa hari kemudian... PING! (Suara BBM legendaris!).
Dia bales, dan isinya bikin gue teriak tertahan! Dia bersedia!
“Aku juga masih sayang sama Kaka, tapi tolong jangan kayak kemarin lagi ya, Kak.”
Duh, Meleleh! Gue langsung auto janji: "Iya Gladys, gue janji bakal lebih baik kali ini!" No more drama insecure, no more sok sibuk, Fokus utama: Gladys!
Gue balikan sama dia di akhir Desember,
pas banget buat closing tahun yang dramatis!
==============
Ini dia yang aneh—dan romantis—dari Gladys: Setiap gue liat dia, rasanya kayak ketemu dia pertama kali! Ada flash perasaan senang, suka, gembira yang nggak bisa gue jelasin pakai rumus fisika, tapi bisa gue rasain sampai ulu hati!
Sekarang, Naga Kecil gue udah di genggaman gue lagi! Dia nggak ke mana-mana, standby di sisi gue. Ketulusannya udah terbukti banget saat dia jenguk gue di RS.
Momen balikan ini pas libur kuliah, jadi gue stay di Jakarta. Badan gue yang tadinya lemes, sekarang auto pulih 90% (sisanya 10% buat pemanasan). Dan mostly karena happy sama Gladys, gue pun jadi sopir pribadi dadakan!
Tugas gue: Nganter Gladys berangkat kerja ke Apotek. Jemput dia ketika pulang.
Gue seneng banget! Punya kerjaan baru yang jauh lebih seru daripada kemah pengenalan fakultas: Menyenangkan Gladys!
Hari berganti, Desember hujan sedang menari-nari.
Malam Tahun Baru, gue dan Gladys membuat janji, Ekspektasi melihat kembang api, menyambut masa depan.
Karena motor kesayangan gue masih healing di luar kota, Gladys yang baik hati ini menawarkan volunteer pakai motor dia. Deal! Gantian jemput—vibes pacaran SMA yang nggak pernah basi!
Gue udah ready dari sore. Mandi bunga tujuh rupa, pakai baju terbaik. Tinggal nunggu Si Naga Kecil on the way.
Petaka datang 20 menit kemudian.
Bukan petaka mantan datang, tapi petaka dari langit! HUJAN DERAS! Damn it, alam semesta nggak support adegan romantis!
Gladys nyampe depan rumah, basah kuyup kayak kucing kecebur comberan (tapi versi cantik!).
Gue langsung auto-pilot, ambil payung kayak butler kelas atas.
Kita neduh di teras. Gue langsung inisiasi mode Pacar Siaga Bencana: "Tunggu ya, aku bikinin teh hangat dan ambilin jaket emergency!"
Gue sodorin jaket hoodie andalan gue yang wangi parfum (biar dia nggak kedinginan dan nggak ngulang lagi drama tipus).
"Ayo dipake. Ganti aja di dalem, nanti masuk angin."
"Gausah, Ka, aku nggak apa-apa, kok."
Tuh kan! Gladys is Gladys! Gengsinya Level Max! Padahal gue lihat bajunya udah nempel banget, pasti dia nggak nyaman. Tapi ya sudahlah, cowok sabar pasti disayang Naga Kecil.
Rencana A gagal karna hujan, switch ke Rencana B: "Kita ke rumah Hasan aja! Nongkrong bareng anak A3bt, sambil nunggu show kembang api gimana?"
Gladys setuju
Destyan, partner in crime yang rumahnya deket sama rumah gue, datang. Jam 9 malam, time to go!
Kami bertiga gas motor. Ekspektasi: Sampai Hasan, ketawa-ketawa, countdown bareng!
Realita: Baru setengah perjalanan, Gladys rem mendadak!
"Ka, maaf ya, aku kayaknya pulang aja."
mood gw ganti dari happy ke mode anak kecil gajadi beli mobil-mobilan.
"Gladys mau pulang aja?"
Gue pasti udah pasang muka memelas minta dikasihani.
"Iya, Ka, takut kemaleman."
Gue cuma bisa nelan ludah. Pengen banget nahan dia sampai jam 12, tapi gue lihat lagi badannya yang udah basah. Tanggung jawab sebagai pacar yang 'lebih baik' harus diutamakan.
"Yaudah, Kaka anterin ya, sama Destyan."
"Gausah, Ka, aku sendiri aja nggak apa-apa, kok."
Akhirnya, negosiasi musti diakhiri:
"Oke, kita anterin sampai pertigaan depan, dari situ kamu lanjut sendiri. Biar nggak terlalu jauh banget!"
Maka, begitulah. Malam Tahun Baru gue, yang seharusnya penuh gemerlap, resmi ditutup di pertigaan jalan.
Dan lo tahu? Pertemuan di pertigaan jalan itu ternyata adalah last show kami.
Karena, tiga bulan kemudian hubungan kami putus lagi! Kali ini beneran final, sayonara, goodbye.
Tapi tenang, jangan sedih dulu! Sebelum gue ceritain gimana final break up-nya, lo harus tahu drama long distance selama 3 bulan itu, waktu gue udah balik ke luar kota buat lanjutin kuliah.
========
Sisa masa kuliah gue lalui dengan mode self-reflection total.
Hubungan gue sama Gladys berjalan, tapi ketidaknyamanan itu perlahan muncul. Kami pacaran jarak jauh modal BBM dan telepon. Gue yang di Jawa Barat, dia di Jakarta.
Awalnya indah, tapi seiring waktu, intensitas komunikasi kami menurun drastis. Bukan karena dia bosan, tapi karena gue kembali ke pola lama: menjauh saat merasa terlalu dekat.
Gue takut.
Gue takut kehilangan. Tapi ironisnya, ketakutan itu gue wujudkan dengan menciptakan jarak.
Di tengah pergulatan batin itu, sebuah undangan tiba di kampung: Pernikahan Faza.
Momen di Depan Pelaminan
Gue nggak tahu kenapa, tapi gue merasa wajib datang. Ini bukan soal berharap balikan atau pamer kesuksesan, tapi sebuah ritual penutup. Gue harus melihat Naga Pertama gue benar-benar menjadi sejarah.
Gue datang ke acara resepsi di kampung.
Faza tampak luar biasa anggun. Di sebelahnya, berdiri suaminya, yang terlihat baik dan tulus.
Saat giliran gue naik ke pelaminan, jantung gue berdetak kencang. Faza tersenyum ramah, senyum yang sama yang dulu membuat gue rela bolos ngaji demi les Bahasa Inggris.
"Putra. Makasih udah dateng, ya," katanya lembut.
Gue balas tersenyum. "Selamat, Faza. Semoga bahagia."
Kami bersalaman. Suaminya juga bersalaman dengan gue. Semuanya berjalan normal.
Tapi momen itu—momen ketika gue melihat Faza yang dulu gue obsesi begitu gilanya, kini bahagia dengan orang lain—memberi gue sebuah tamparan rohani.
Gue berjalan menjauh dari pelaminan, menuju sudut aula. Pikiran gue langsung terbang jauh, menyeberangi jarak ratusan kilometer menuju Jakarta, menuju Gladys.
Dulu, gue rela berbohong, berakting, dan mengubah diri gue habis-habisan demi Faza. Obsesi gue ke dia nggak main-main. Dan hasilnya? Nihil. Dia tetap bukan jodoh gue.
Gue melihat tangan gue yang baru saja bersalaman dengan Faza.
Sekarang, gue lagi jalanin hubungan sama Gladys. Dia baik, dia tulus, dia Jenderal Naga gue. Tapi kenapa gue nggak pernah benar-benar merasa damai? Kenapa gue selalu merasa panik dan menciptakan drama LDR ini?
Jawabannya menusuk jantung gue.
Karena gue hanya mengulang pola yang sama.
"Kalo gue dulu seobses itu sama Faza dan dia bukan jodoh gue, kenapa ke Gladys gue obses juga ya? Gimana kalo ternyata Gladys emang bukan jodoh gue seperti sedalam itu gue ke Faza?"
Obsesi itu berubah bentuk. Dulu, obsesi fisik dan pencapaian. Sekarang, obsesi untuk "memenangkan" dan "mempertahankan" pacar terbaik.
Gue sadar. Naga Insecure gue tidak takut kehilangan Gladys sebagai kekasih, melainkan takut kehilangan validasi bahwa gue mampu memiliki wanita sehebat Gladys.
Kalau gue terus memaksa, kalau gue terus bersama Gladys dengan mindset obsesi ini, gue akan menghancurkan dia, sama seperti gue menghancurkan diri gue sendiri. Dia pantas mendapatkan seseorang yang 100% yakin dan damai. Bukan seorang Putra yang selalu digerogoti self-doubt.
Malam itu, setelah kembali ke kosan di kampus, gue menelepon Gladys. Gue nggak bisa menunggu.
Dia mengangkat. Suaranya terdengar lelah.
"Ada apa, Kak? Mau ngejauhin aku lagi?"
Kata-katanya menusuk. Gue menarik napas panjang.
"Aku minta maaf, Gladys. Aku minta maaf karena selama ini aku nggak pernah sepenuhnya ada buat kamu, bahkan saat kita teleponan."
"Kenapa, Kak? Kamu sibuk banget?"
Gue menggeleng, walau dia tidak bisa melihatnya. "Nggak, aku nggak sibuk kuliah. Aku sibuk sama kepala aku sendiri."
Gue menceritakan semuanya. Tentang Faza, tentang obsesi yang salah, dan tentang realisasi gue di pernikahan Faza tadi.
"Aku lihat Faza di pelaminan, dan aku sadar, aku harus berhenti mengulangi pola lama. Aku terlalu obsesif sama kamu. Bukan karena cinta yang tenang, tapi karena aku butuh kamu untuk membuktikan ke diri aku sendiri kalau aku pantas. Dan itu nggak adil buat kamu."
"Putra, itu... itu konyol," suara Gladys mulai bergetar. "Aku cinta kamu apa adanya. Aku tahu kamu insecure. Aku terima itu."
"Aku tahu, Gladys. Kamu Jenderal Naga yang kuat. Tapi justru karena kamu menerima, aku jadi makin takut. Aku takut aku akan menghancurkan ketulusan kamu dengan rasa panik gue yang nggak jelas. Aku harus sembuh dulu. Aku harus belajar mencintai diri aku sendiri tanpa bayang-bayang Faza, tanpa validasi dari siapa pun. Dan aku nggak bisa melakukannya sambil pacaran sama kamu, karena kamu terlalu sempurna untuk dihancurkan sama proses 'penyembuhan' gue ini."
Keheningan melanda. Hanya suara tangisan kecil dari seberang telepon.
"Jadi, Kakak mau putus?" tanyanya pelan.
"Ya. Aku harus melepaskan kamu, Gladys. Bukan karena LDR, tapi karena aku harus menyelamatkan diri aku sendiri dari obsesi yang salah. Dan aku harus membebaskan kamu dari drama ini. Kamu pantas dapat yang terbaik."
Gladys menutup telepon itu.
Dan gue termenung dengan perasaan hancur, namun ada satu hal yang berbeda: kali ini, gue hancur karena keputusan yang benar, bukan karena kegagalan yang bodoh.
Itulah final break-up gue sama Gladys. Keputusan yang tulus, dan itu adalah tindakan paling dewasa yang pernah gue lakukan.
Setelah telepon yang menghancurkan itu, gue duduk di kosan, terpaku. Hancur, tapi setidaknya gue jujur.
Namun, beberapa jam kemudian, dunia digital menampar gue sekali lagi.
Saat gue membuka Twitter yang sudah lama nggak tersentuh, ada notifikasi: Gladys men-tweet.
Gladys: Ga akan ada lagi kesempatan buat kamu Putra.
Jleb.
Di titik itu, gue tahu. Game over. Pintu itu tertutup, terkunci, dan kuncinya dibuang ke jurang penyesalan. Gue nggak bisa lagi me-reach dia, nggak bisa lagi minta maaf, nggak bisa lagi menjelaskan.
Namun, entah kenapa, tamparan kesadaran yang gue dapat di pernikahan Faza itu bener-bener membekas. Realisasi bahwa obsesi gue akan menghancurkan, itu memaksa gue untuk mengambil keputusan putus itu, seberat apa pun rasanya.
Malam itu, rasa sayang yang meluap ke Gladys, yang kini tanpa tujuan, gue alihkan dengan drastis.
Gue mengubah rasa sakit itu menjadi bahan bakar jet.
Hari-hari berikutnya, gue hidup dalam mode mesin. Semua energi cinta, kerinduan, dan penyesalan yang meluap ke Gladys, gue salurkan sepenuhnya untuk pencapaian.
Gue yang dulu cuma aktif sebatas OSIS demi Gladys, kini benar-benar menjadi mahasiswa berpengaruh.
Gue ikut organisasi Himpunan Mahasiswa dan dalam waktu singkat, gue terpilih menjadi kepala departemen. Gue yang anti-kompetisi, tiba-tiba semangat ikut lomba dan menang.
Gue belajar gila-gilaan, bukan untuk ranking, tapi untuk menjadi pantas.
Gue mendaftar program beasiswa bergengsi seperti Beasiswa Djarum dan Sukses — beasiswa yang dulu cuma gue pandang sulit untuk gue raih. Gue menghadapi tes, wawancara, dan berhasil.
Gue menjadi magnet di kampus. Disegani kawan karena visi gue yang jelas, dihormati adik tingkat karena kesediaan gue membimbing, dan disenangi dosen karena kualitas tugas gue yang meningkat drastis.
Semua orang melihat Putra yang baru: brilian, bersemangat, dan berprestasi. Tapi nggak ada satu pun yang tahu motor penggerak di baliknya.
Semua itu karena semangat cinta gue ke Gladys.
Dan semangat cinta ke Gladys itu, jauh, jauh lebih besar dari obsesi Bahasa Inggris gue dulu ke Faza, yang pernah gue ceritain ke Gladys, yang dulu sempat bikin dia cemburu dan panas karena cerita itu. Obsesi ke Faza dulu hanyalah reaksi kekanak-kanakan. Cinta ke Gladys ini adalah revolusi.
Dia nggak akan pernah tahu bahwa alasan gue berani belajar sampai subuh, alasan gue berani presentasi di depan dewan juri yang menakutkan, atau alasan gue mau aktif di sana-sini adalah untuknya.
Gue sering bangun malam. Bukan untuk galau atau menyesali nasib, tapi untuk berdoa.
Gue memohon pada Tuhan, "Ya Tuhan, jadikan aku mahasiswa berprestasi, jadikan aku orang yang berguna. Biar pun dia nggak pernah kembali, biarkan dia melihat suatu hari nanti bahwa orang yang dia cintai dulu, orang yang dia anggap jahat, adalah orang yang sukses. Ini adalah bentuk cinta tersembunyi saya padanya."
Gladys nggak pernah tahu.
Dia tahu gue cowok jahat yang mainin perasaannya, cowok labil yang self-destruct dan pergi saat hubungan mulai serius. Dia nggak tahu bahwa di balik semua pencapaian itu, ada keberanian yang berakar dari cinta gue yang dalam dan penyesalan yang tulus.
Dia sama sekali nggak tahu, bahwa di setiap piala yang gue angkat, di setiap sertifikat yang gue raih, ada nama dia yang gue sebut dalam hati.
Ini adalah pengorbanan gue. Melepaskan dia, demi dia, dan menggunakan semangatnya untuk menempa diri gue menjadi seseorang yang seharusnya gue sudah jadi saat bersamanya.
Setelah final break-up dengan Gladys, gue benar-benar tenggelam dalam "Proyek Gladys". Dua tahun gue hidup dalam mode hero yang sunyi: beasiswa, organisasi, dan prestasi. Dan gue berhasil. Gue meraih semuanya.
Tapi di tengah semua pencapaian dan pujian itu, sebuah kekosongan yang dingin mulai merayap masuk.
Setiap malam, setelah gue menyelesaikan tugas Hima atau pulang dari acara Djarum, perasaan itu muncul.
Gue kangen Gladys. Bukan lagi kangen untuk pacaran, tapi kangen untuk berbagi.
Gue pengen dia tahu. Gue pengen dia tahu betapa gila-nya gue menahan diri untuk tidak menghubunginya. Gue pengen dia tahu bahwa setiap kesuksesan yang gue raih adalah bukti bahwa cintanya tidak sia-sia. Gue ingin dia tahu bahwa gue telah menjadi pria yang pantas, meskipun bukan untuk dia.
Namun, setiap kali dorongan itu muncul, gue ingat tweet finalnya: "Ga akan ada lagi kesempatan buat kamu Putra."
Biarlah.
Gue akhirnya memutuskan, biarlah Gladys nggak pernah tahu. Biarlah dia menganggap gue Putra yang jahat dan mainin dia. Inilah konsekuensi dari pengorbanan yang gue pilih—menanggung nama buruk agar ia bisa tenang dan bahagia.
Tahun ketiga kuliah, gue jalani dengan autopilot. Label mahasiswa Djarum membuat gue sibuk, tapi kekosongan itu tetap ada, berbanding lurus dengan kerinduan yang terkunci rapat.
(Vani)
Di tengah kesibukan kuliah dan kekosongan yang membius itu, takdir kembali melemparkan tantangan.
Gue sedang memimpin rapat divisi Hima, membahas program kerja yang rumit. Saat gue sedang menjelaskan strategi di depan whiteboard, pandangan gue terhenti pada seseorang.
Dia adalah adik kelas gue, yang ternyata baru masuk di kepengurusan Hima.
Vani.
Itu bukan sekadar tertarik, tapi rasa yang sangat familiar, namun lebih halus: jatuh cinta pada pandangan pertama.
Dia duduk di barisan belakang, mencatat dengan fokus, rambut panjangnya diikat sederhana. Dia cantik, sangat cantik. Kecantikannya berbeda dari Faza yang manis atau Gladys yang fierce (garang).
Vani memiliki kecantikan yang lembut, elegan, dan menenangkan.
Level kecantikan yang di usia dewasa ini, jika gue masih menjadi Putra yang dulu, gue pasti akan sadar diri dan bahkan nggak akan berani menatapnya lama.
Tapi Putra yang ada di momen itu, dia sudah berbeda. Dia adalah Putra yang penuh semangat dan keberanian, yang berhasil menaklukkan semua insecurity terbesarnya. Dia adalah Putra, sang peraih beasiswa.
Rasa insecure itu sempat berbisik, Dia terlalu sempurna, Putra. Jangan ulangi kesalahan.
Tapi kali ini, bisikan itu gue bungkam dengan cepat.
Nggak. Kali ini bukan obsesi. Ini adalah peluang untuk mencintai dengan cara yang benar.
Gue tersenyum kecil pada diri sendiri. Pintu emosional yang selama dua tahun terkunci karena Gladys, tiba-tiba terbuka sedikit. Dan Vani, sang Naga Ketiga, telah masuk tanpa permisi.
Vani adik kelas gue, beda satu angkatan.
Wajahnya khas oriental, rambutnya panjang, dan yang bikin gue jatuh cinta adalah matanya sangat indah.
Seperti yang gue lakukan dulu ke Gladys, gue ngga langsung agresif tapi gue incer dia.
Sebulan setelah pertemuan itu, ada mata kuliah drama performance di kampus..gue yang dulu malu masuk ekskul teater di SMA karena gue anak kampung, sekarang malah jadi sutradara kelas
3 bulan penuh persiapan, latihan, organisasi, kuliah, acara Djarum, gue jalani dengan senang.
Di sela-sela itu , gue masih kepikiran tatapan Vani, dan Bayangan Gladys masih muncul di antara kekosongan.
Suatu hari, temen kelas Vani, namanya Ifah, dia nyamperin gue yang baru keluar kelas. Gue dulu sempat naksir sama Ifah pas dia tingkat 1, dia juga di organisasi yang sama.
Ifah nyamperin gue mau minjem buku grammar, ya gue anak sastra inggris sekarang.
Saat minjem buku itu, gue nanya ke Ifah, kenal Vani engga. Dia bilang Vani temen Deket dia di kampus.
Gue bilang Vani cantik (gue suka sama Vani). Tapi gue ga mengambil tindakan apapun kaya minta nomor, paling tidak, gue udah tau ada jembatan buat gue Deket ke Vani
Pola ini mirip dengan pola dulu gue dapet nomor Gladys, temen Gladys, Adya, yang justru suka sama gue, malah gue minta nomor Gladys dari dia.
Acara drama performance itu pun berjalan, gue dan kelas gue berhasil menampilkan performance yang bagus. Masuk ke tiga besar dari enam kelas yang ikut.
D tengah pertunjukan dari atas panggung, gue liat Vani duduk di depan, kayanya dia udah tau dari Ifah kalo gue naksir dia.
Gue malu, grogi, tapi show must go on.
Acara berjalan dengan lancar, selepas acara gue samperin Ifah yang juga monton.
"Gimana keren ga penampilan Kaka?" Hehe
"Bagus ka. Oya ka, Kaka gamau nomor Vani kah? Banyak loh yang naksir dia nanti keduluan"
Akhirnya gue dapet nomor Vani dari Ifah
Nomor Vani udah aman di handphone, tapi jujur, gue terlalu sibuk (atau sok sibuk) sebagai anak sastra yang merangkap Beswan dan organisasi.
Selama seminggu, nomor Vani cuma jadi hiasan, sebuah trophy virtual yang belum berani gue sentuh.
Sampai suatu malam, gue merasa harus bergerak. Ini bukan drama teater, ini kehidupan nyata.
Gue memberanikan diri.
"Assalamualaikum Van, ini Ka Putra. Temennya Ifah, salam kenal ya,"
Coba baca lagi..
"Assalamualaikum, salam kenal ya"
Coba kalian bayangkan seberapa kaku chat gue. Vibes-nya kayak email permohonan magang ke perusahaan BUMN. Romantisnya nol besar.
Nggak lama, Vani bales.
"Waalaikumsalam ka, iya salam kenal juga ya,"
Selesai. That’s it. Kontak terputus secepat kita mengiyakan ajakan dosen rapat mendadak.
Gue kembali tenggelam ke rutinitas, dan Vani kembali jadi bayangan indah di sela-sela revisi tugas.
(Perjalanan Dinas ke Jogja dan Ide Konyol
Awal Maret)
Beberapa waktu kemudian , gue dapet batch buat Djarum Leadership Development di Jogja. Ini mandatory buat Beswan, jadi gue ikut. Tiga hari dua malam diajarin public speaking. Mentornya keren-keren: ada Rosiana Silalahi (gue duduk persis di belakang beliau, nggak berani napas kenceng-kenceng) dan James Gwee. Intinya, gue di sana dilatih jadi calon pemimpin sukses.
Acara seru, kelompok gue nyaris jadi tim terbaik tapi kehabisan waktu.
Selesai pelatihan, rombongan kami jalan-jalan ke Malioboro. Gue beli kaus buat adik, terus duduk santai di depan toko batik. Mungkin karena stress jadi pemimpin dadakan, otak gue tiba-tiba konslet. Sebuah ide konyol muncul.
"Kenapa nggak pake simbol aja?"
Gue masuk ke toko, lalu dengan mantap (dan sedikit gila), gue beli sepasang batik dengan motif yang sama persis. Strategi flirting gue sekarang pindah dari drama panggung ke fashion show Hari Rabu.
Sorenya kami langsung balik ke Jawa Barat. Sampe stasiun, gue nggak langsung pulang. Gue malah mampir toko buat beli kertas kado. Yes, kado itu harus terlihat mahal dan misterius, bukan sekadar plastik kresek indomaret.
Malam di kosan, gue bungkus satu batik couple yang tadi gue beli di Jogja. Sebuah "bom waktu" romansa.
Sebelum tidur, gue pasang jebakan di WhatsApp.
"Vani, besok Kakak mau ngobrol sebentar ya. Vani bisa jam berapa?"
"Jam 11 boleh ka, abis kelas"
"Baik Vani, selamat malam"
Keesokan harinya, gue berangkat ke kampus dengan tas punggung berisi bungkusan kado seberat beban skripsi.
Kelas kelar. Action kedua.
"Vani udah selesai kelas?"
"Udah ka, Kaka dimana?"
"Kaka di ruang 2.01, Vani kesini ya."
Gue nunggu di depan kelas 2.01, berdiri kayak patung penyambutan. Vani datang. Gue ajak dia masuk ke kelas. Ini dia, momen pengakuan cinta ala anak Sastra Inggris yang hobi staging.
"Vani, Kakak suka sama Vani.. Tapi Kakak cuma pengen Vani tau aja," kata gue, berusaha tampil cool kayak aktor Hollywood padahal keringat dingin sudah menembus kemeja.
"Ini Kakak ada kado dari Jogja. Nanti sampe rumah buka ya. Kalo udah dibuka, kabarin Kakak."
"Oh iya ka, makasih," jawab Vani, suaranya kayak bisikan angin.
Vani langsung ngacir keluar. Gue lihat dia langsung meluk temennya, wajahnya shock. Gue berasumsi dia grogi, bukan trauma melihat cowok tingkat akhir yang ngasih batik sebagai pernyataan cinta.
Sepulang kuliah, gue langsung follow up.
"Vani udah dibuka kah kadonya?"
"Udah ka, bagus batiknya. Makasih ya"
"Sama-sama Vani"
Lalu gue foto batik yang ada di tangan gue—pasangan dari yang Vani punya—dan gue kirim, berikut aturan mainnya.
"Vani, Kakak bakal pake batik ini setiap hari Rabu di kampus. Kakak bakal pake batik ini, sampe hari dimana Vani mengenakan batik yang sama. Itu artinya, Vani Nerima Kakak jadi pacar Vani."
Brilian! Gue baru saja menciptakan "ujian loyalitas" terlucu sepanjang sejarah perkuliahan.
"Iya kak".
Sejak saat itu, setiap hari Rabu, gue adalah 'Duta Batik Kampus'.
Rabu pertama: Vani belum pakai. "Santai, Van. Mungkin lagi nunggu cucian kering," hibur gue pada diri sendiri.
Rabu kedua: Masih nggak ada. "Mungkin dia lagi cari jilbab yang matching."
Rabu ketiga: Nol besar. Frustrasi mulai menyerang. "Apa dia pikir batiknya itu taplak meja?"
Rabu keempat. Gue udah setengah hati. Sambil nyetrika, gue ngomong sama batiknya, "Oke, Bro. Ini kesempatan terakhir kita. Kalau dia nggak pake juga, berarti kita ditolak. Kita pensiun dan jadi kain lap aja."
Dan benar aja, hari itu Vani nggak cuma nggak pake batik, dia nggak muncul! "Dia beneran kabur dari challenge batiknya, ya?" gumam gue, merasa dikerjain.
Gue lagi nongkrong di depan kampus, nyaris ngeluarin iklan jual rugi sepasang batik,
sampai tiba-tiba temen gue teriak histeris.
"Put! Itu Vani lewat! DIA PAKE BATIKNYA!"
Gue spontan nengok, seketika shock. Jantung gue kayak baru aja dikasih jumpscare. Grogi, kaget, seneng, semua campur aduk. Gue harus gimana?! Lompat? Lari? Sujud syukur?
Vani duduk di meja bundar di tengah kampus. Kini saatnya.
Gue inisiatif jalan ke sana. Dari jauh, temen-temennya udah teriak-teriak cie-cie kayak cheerleader gagal.
Gue berdiri di depan Vani, senyum selebar kali Malioboro.
"Jadi," kata gue, menunjuk batik yang kami kenakan, "kita kondangan?"
Vani menutup mukanya, malu-malu parah.
"Apaan sih ka!"
Hari itu, setelah empat minggu jadi badut berkemeja batik, gue resmi jadian sama Vani. Misi "Batik Couple" berhasil!
Sama seperti kisah cinta gue sebelumnya dengan Gladys, di awal hubungan sama Vani ini vibes-nya sudah terasa Romadhon banget. Maksudnya, sama-sama penuh ujian, menahan diri, dan kadang-kadang bikin haus (akan validasi). Intinya, hubungan ini dimulai dengan drama.
Salah satu drama perdananya? Motor.
Seperti biasa, setelah resmi jadian, gue otomatis naik pangkat jadi driver pribadi (dan gratis) buat Vani. Suatu sore, sekitar jam 3, gue nganter Vani pulang kuliah. Motor gue, si Iron Horse kesayangan, lumayan gagah. Bukan motor butut. Dia motor yang promising.
Kami jalan dengan gembira seperti ibu-ibu menang arisan sampai kemudian 100 meter dari gerbang komplek Vani,tiba-tiba,
Tali kopling motor gue putus.
Motor gue langsung bereaksi kayak newborn yang baru belajar jalan. Ndut-ndutan, tersendat-sendat, dan kemudian... Mogok total di tengah lampu merah.
Rasanya gue pengen ganti nama saat itu juga. Sialan banget motor, padahal biasanya nurut. Apa mungkin dia cemburu lihat gue boncengin Vani? Atau memang takdir gue harus membuat momen romantis jadi momen mekanik?
Gue berhasil dorong motor ke pinggir jalan dan menemukan sebuah bengkel. Gue dan Vani duduk di sana.
"Untung ada bengkel, Ka," kata Vani, polos.
"Iya, Van," jawab gue, lega. Tapi itu nggak lama.
"Maaf, Mas, kami cuma spesialis tambal ban," kata si Mamang Bengkel, sambil nunjuk tumpukan ban bekas yang tingginya kayak Tembok China versi low-budget.
Sial. Bengkel yang menyediakan spare part macam tali kopling letaknya lumayan jauh, sekitar satu kilometer. Gue nggak mungkin nyeret Vani sejauh itu cuma buat melihat gue nego harga part motor.
Dengan wajah memelas dan penuh rasa bersalah, gue bilang ke Vani. "Vani, kayanya gue nggak bisa lanjut deh. Motor gue butuh tali kopling, dan gue kudu nyari di sana." Gue menunjuk ke kejauhan, ke tempat yang bahkan nggak kelihatan karena terhalang polusi.
Vani senyum. Senyum yang kayaknya bilang, "Tenang, Kak. Aku udah biasa sama drama lo."
"Yaudah gapapa ka, Vani lanjut angkot aja, sedikit lagi kok. Nanti Vani jalan kaki aja dari depan komplek," katanya.
"Iyaudah maaf ya Van," kata gue, merasa gagal total sebagai pacar yang bertugas mengantar sampai depan pintu.
"Kakak hati-hati ya."
Vani pun berlalu. Dia nyetop angkot, lalu menghilang ditelan hiruk pikuk jalanan.
Kemudian Gue minta Mamang Bengkel buat stut (dorong pake kaki) motor gue ke bengkel spare part. Dan keputusan itu bener, sebab Motor gue baru selesai dibetulin hampir menjelang magrib.
Hari-hari berikutnya dengan Vani terasa… menyenangkan, sekaligus menguji skill.
Khas pasangan baru.
Sekarang, gue punya alasan yang jauh lebih logis buat bangun pagi dan ngacir ke kampus: Vani. Bukan lagi cuma demi absensi dosen killer
.
Vani itu beneran cantik. Sampai-sampai, temen gue yang mulutnya kayak knalpot bajay nyeletuk, "Put, lu pake pelet apaan, sih? Kok bisa dapet Vani?"
Kurang ajar. Jelas-jelas gue cuma pake pelet batik couple, strategi flirting paling low-tech abad ini.
Walaupun udah pacaran, jujur aja, gue masih suka malu kalau di kampus terlalu intense berduaan sama Vani.
Alasannya?
Di situ banyak mata. Ada temen seangkatan, adik tingkat yang kepo, partner organisasi, bahkan dosen yang kadang lewat. Walaupun sebenarnya semua orang udah tahu hubungan kami, gue tetap menjaga jarak safe-zone. Paling cuma sesekali gue kelihatan ngobrol serius sama Vani, itupun kayak briefing sebelum perang.
Temen-temen dan orang sekitar pada bingung kenapa gue bisa jadian sama Vani, nadanya sinis. Mungkin mereka mengharapkan gue jadian sama cosplayer Sastra Inggris, bukan beauty standard kampus.
Lah, emang kenapa? Gue suka, dia mau. Udah. Intinya, cewek-cewek ngiri karena Vani cantik banget, dan cowok-cowok ngiri karena gue bisa dapetin Vani. Case closed.
Pernah ada momen gue pede mencoba jadi couple goals di mata publik. Gue duduk berdua sama Vani di taman kampus. Dia dengan semangat 45 ngenalin gue sama dunia Korea yang dia gandrungi. K-Pop, Drakor, oppa-oppa klimis, segala macem.
Gue cuma iya-iya aja, pura-pura paham fandom. Tiba-tiba, dia nyumpel kuping gue pake headset dan nyetel lagu EXO, judulnya "Lucky."
"Enak juga," pikir gue. Minimal, gendang telinga gue nggak shock denger musik underground yang biasa gue dengerin.
Lalu masuklah bulan Ramadan.
Awal Ramadan, temen gue yang jualan online nge- spam timeline dengan pashmina. Karena mood Ramadan, gue iseng beli satu buat Vani. Walaupun sebenarnya Vani nggak terlalu sering pakai jilbab, gue nggak masalah. Niatnya cuma mau kasih gimmick Ramadan aja. Eh, ternyata dia nggak pake. Ya sudahlah, mungkin batiknya lebih keren.
Momen seru tiba ketika gue ada acara buka bersama bareng sepupu dan temen-temen lama. Gue ajak Vani. Alhamdulillah, dia mau ikut.
Gue jemput dia, dan kami bukber di luar. Di tengah riuh rendah senda gurau sepupu gue yang heboh, terjadi sebuah milestone penting: Vani nyuapin gue sepotong ayam!
Astaga, disuapin pacar! Rasanya hype-nya melebihi nilai A di mata kuliah Grammar. Entah kenapa gue seneng banget, padahal cuma disuapin ayam. Efek jomblo kelamaan memang parah.
Pulangnya, kami mampir ke mal. Niatnya mau nonton film yang ending-nya nggak se-drama hubungan kami. Tapi takdir berkata lain. Ternyata Vani lagi PMS hari itu, dan perutnya sakit.
"Aduh, Van, kenapa nggak bilang dari tadi?" tanya gue, panik. Semua rencana ngedate romantis langsung ambyar.
Akhirnya, gue pamit pulang duluan, mengantar Vani secepat kilat. Nggak jadi nonton, nggak jadi malam mingguan.
Nggak terasa, Ramadan selesai. Meskipun diawali dengan motor mogok dan diwarnai drama headset K-Pop, setidaknya gue sudah mengukir satu kenangan seru dan awkward bersama Vani di bulan Ramadan. Dan yang terpenting: Gue berhasil disuapin ayam! Victory!
Beberapa hari setelah Lebaran, Vani ulang tahun! Bulan dan tanggal lahirnya... sama persis kayak nomor punggung Cristiano Ronaldo! Angka Tujuh, perfect seven. Ini bukan kebetulan, ini takdir bahwa pacar gue sekeren legend sepak bola.
Gue sebagai pacar yang (sok) romantis berinisiatif ngasih surprise. Gue beliin kado, kue ulang tahun, dan modal pede se-gedung rektorat. Gue meluncur ke rumah Vani di hari H.
Gue dateng tanpa warning apapun. Ini kunci surprise terbaik: sergap sebelum dia sempat dandan.
Vani buka pintu. Jackpot. Dia masih tanpa make up, rambutnya masih agak acak-acakan. Gue curiga dia belom mandi (dan itu cute banget, gue nggak bohong). Gue langsung nyalain lilin di kue.
"Selamat ulang tahun ya!" teriak gue, sambil berusaha menahan lilin agar nggak mati kena angin.
"Makasih, Ka," jawabnya, sedikit terkejut, tapi matanya berbinar (meski matanya agak sipit karena baru bangun).
"Ayo, make a wish dong!" gurau gue.
Momen make a wish itu difotoin sama temen gue yang gue culik buat jadi juru kamera.
Malamnya, gue upload foto bareface Vani itu ke Facebook. Dan bener aja, ada temen organisasi gue yang komen:
"Bisa romantis juga, Ka."
Sialan! Memangnya selama ini gue kelihatan kayak satpam yang cuma bisa marah-marah di gerbang organisasi?
Gue harap Vani jauh lebih seneng. Hari itu gue berhasil melihat Vani dalam mode unfiltered dan itu bikin gue makin sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar